ZONAMERAH.ID – Pelaksanaan Latihan Kader 1 HMPS Seni Tari yang di laksanakan di Malino, merupakan bagian dari proses kaderisasi yang semestinya menjadi ruang pendidikan, pembentukan karakter, penguatan solidaritas, serta pengembangan kapasitas mahasiswa. Kaderisasi tidak boleh bergeser menjadi ruang pelampiasan senioritas, apalagi tindakan yang merendahkan martabat mahasiswa baru.
Adanya dugaan tindakan perpeloncoan yang dilakukan oleh oknum senior dalam rangkaian kegiatan tersebut perlu dipandang secara serius. Apabila tindakan tersebut berada di luar agenda resmi dan dilakukan tanpa sepengetahuan panitia maupun pengurus, maka tindakan tersebut merupakan perbuatan oknum yang harus dipertanggungjawabkan secara personal dan tidak serta-merta dapat dilekatkan kepada seluruh kepengurusan HMPS.
Namun demikian, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang melakukan tindakan tersebut.
Ketika sebuah kegiatan berada dalam ruang resmi HMPS dan melibatkan peserta kaderisasi, maka pengurus memiliki kewajiban untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai tujuan, tata tertib, prinsip pendidikan, serta ketentuan kelembagaan yang berlaku. Kontrol terhadap kegiatan merupakan bagian dari tanggung jawab pengurus.
Karena itu, pengurus tidak tepat apabila hanya mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh “oknum senior” lalu menganggap persoalan selesai. Justru harus ada evaluasi: bagaimana tindakan tersebut dapat terjadi, siapa yang memiliki kewenangan mengawasi, apakah terdapat kelalaian dalam pengendalian kegiatan, serta sejauh mana panitia dan pengurus mengetahui atau seharusnya mengetahui tindakan tersebut.
Kami memandang bahwa kaderisasi harus membangun keberanian, bukan ketakutan; membentuk karakter, bukan mempermalukan; mengajarkan disiplin, bukan melakukan kekerasan; serta melahirkan solidaritas, bukan melanggengkan hierarki senior-junior.
Senioritas tidak boleh menjadi legitimasi untuk memperlakukan junior secara sewenang-wenang.
HMPS harus menjadi ruang pendidikan organisasi yang menjunjung nilai kemanusiaan dan akademik. Jika terdapat tindakan yang menyimpang dari tujuan kaderisasi, maka mekanisme evaluasi harus dijalankan secara terbuka dan objektif, termasuk meminta pertanggungjawaban kepada pihak yang melakukan maupun mengevaluasi sistem pengawasan dari pengurus.
Kami tidak sedang mencari kambing hitam. Kami sedang mencari pertanggungjawaban.
Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang menutupi kesalahan demi menjaga nama baik, melainkan organisasi yang berani mengakui kekurangan, mengevaluasi mekanisme, melindungi peserta, dan memastikan kesalahan yang sama tidak kembali terjadi.
Latihan Kader 1 seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengenal organisasi, bukan pintu masuk untuk mewariskan budaya perpeloncoan.
Kaderisasi harus mendidik manusia, bukan menguji seberapa jauh manusia mampu menahan penghinaan.




